Antara Metode Gramatika-terjemah dan Metode Langsung
Metode Gramatika—Terjemah (Thariqah Al-Qawa'id wat Tarjamah)
Latar Belakang
Cikal bakal metode ini dapat dirujuk ke abad kebangkitan Eropa (abad-15). Akan tetapi penamaan metode klasik ini dengan "Grammar Translation Method" baru dikenal pada abad ke-19, ketika metode ini juga banyak digunakan untuk pengajaran bahasa Arab, baik di negeri-negeri Arab maupun di negeri-negeri Islam lainnya termasuk Indonesia, sampai akhir abad ke-19.
Asumsi
Asumsi dari metode ini adalah bahwa ada satu "logika semesta" yang merupakan dasar semua bahasa di dunia ini, dan bahwa tata bahasa merupakan bagian dari filsafat dan logika.
Metode ini mendorong pelajar bahasa untuk menghafal teks-teks klasik berbahasa asing dan terjemahannya dalam bahasa pelajar.
Karakteristik
Karakteristik metode ini adalah:
Tujuan mempelajari bahasa asing adalah agar mampu membaca karya sastra dalam bahasa target.
Materi pelajaran terdiri atas: buku nahwu, kamus dan teks bacaan.
Tata bahasa disajikan secara deduktif.
Basis pembelajaran adalah penghafalan kaidah tata bahasa dan kosa kata.
Bahasa ibu pelajar digunakan sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar-mengajar.
Peran guru aktif sebagai penyaji materi, sedangkan peran pelajar pasif sebagai penerima materi.
Keunggulan daari metode ini yaitu pelajar bahasa mendapatkan bekal kaidah bahasa yang dipelajari dan memahami sejumlah kosa kata. Dengan memahami kaidah bahasa yang diikuti oleh pemahaman terhadap kosa kata, praktek berbahasa dapat lebih mudah dilaksanakan.
Metode Langsung (Thariqah Al-Mubasyirah)
Latar belakang
Metode ini muncul akibat ketidakpuasan terhadap hasil pengajaran bahasa dengan metode gramatika terjemah dikaitkan dengan tuntutan kebutuhan nyata di masyarakat. Metode ini memperoleh popularitas pada awal abad ke-20 di Eropa dan Amerika.
Asumsi
Asumsi metode ini ialah bahwa proses belajar bahasa kedua atau bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu, yaitu dengan penggunaan bahasa secara langsung dan intensif dalam komunikasi, dan dengan menyimak dan berbicara, sedangkan mengarang dan membaca dikembangkan kemudian.
Karakteristik
Ciri-ciri pokok metode ini adalah:
Tujuan utamanya ialah penguasaan bahasa target secara lisan agar pelajar bisa berkomunikasi dalam bahasa target.
Materi pelajaran berupa: buku teks yang berisi daftaar kosa kata dan penggunaannya dalam kalimat.
Kaidah-kaidah bahasa diajarkan secara induktif.
Guru dan pelajar sama-sama aktif.
Ketepatan pelafalan dan tatabahasa ditekankan.
Bahasa target digunakan sebagai bahasa pengantar secara ketat, dan penggunaan bahasa ibu pelajar sama sekali dielakkan.
Metode ini memiliki keunggulan berupa (i) pelajar tidak perlu menghafal bahasa tertulis, (ii) ttidak verbalistis sebab pengajaran langsung dihubungkan dengan kenyataan, (iii) pelajar memperoleh kesempatan yang banyak untuk mempraktekkan bahasa, dan (iv) pelajar dapat memprakteekkan bahasa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi.
Ivan
Latar Belakang
Cikal bakal metode ini dapat dirujuk ke abad kebangkitan Eropa (abad-15). Akan tetapi penamaan metode klasik ini dengan "Grammar Translation Method" baru dikenal pada abad ke-19, ketika metode ini juga banyak digunakan untuk pengajaran bahasa Arab, baik di negeri-negeri Arab maupun di negeri-negeri Islam lainnya termasuk Indonesia, sampai akhir abad ke-19.
Asumsi
Asumsi dari metode ini adalah bahwa ada satu "logika semesta" yang merupakan dasar semua bahasa di dunia ini, dan bahwa tata bahasa merupakan bagian dari filsafat dan logika.
Metode ini mendorong pelajar bahasa untuk menghafal teks-teks klasik berbahasa asing dan terjemahannya dalam bahasa pelajar.
Karakteristik
Karakteristik metode ini adalah:
Tujuan mempelajari bahasa asing adalah agar mampu membaca karya sastra dalam bahasa target.
Materi pelajaran terdiri atas: buku nahwu, kamus dan teks bacaan.
Tata bahasa disajikan secara deduktif.
Basis pembelajaran adalah penghafalan kaidah tata bahasa dan kosa kata.
Bahasa ibu pelajar digunakan sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar-mengajar.
Peran guru aktif sebagai penyaji materi, sedangkan peran pelajar pasif sebagai penerima materi.
Keunggulan daari metode ini yaitu pelajar bahasa mendapatkan bekal kaidah bahasa yang dipelajari dan memahami sejumlah kosa kata. Dengan memahami kaidah bahasa yang diikuti oleh pemahaman terhadap kosa kata, praktek berbahasa dapat lebih mudah dilaksanakan.
Metode Langsung (Thariqah Al-Mubasyirah)
Latar belakang
Metode ini muncul akibat ketidakpuasan terhadap hasil pengajaran bahasa dengan metode gramatika terjemah dikaitkan dengan tuntutan kebutuhan nyata di masyarakat. Metode ini memperoleh popularitas pada awal abad ke-20 di Eropa dan Amerika.
Asumsi
Asumsi metode ini ialah bahwa proses belajar bahasa kedua atau bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu, yaitu dengan penggunaan bahasa secara langsung dan intensif dalam komunikasi, dan dengan menyimak dan berbicara, sedangkan mengarang dan membaca dikembangkan kemudian.
Karakteristik
Ciri-ciri pokok metode ini adalah:
Tujuan utamanya ialah penguasaan bahasa target secara lisan agar pelajar bisa berkomunikasi dalam bahasa target.
Materi pelajaran berupa: buku teks yang berisi daftaar kosa kata dan penggunaannya dalam kalimat.
Kaidah-kaidah bahasa diajarkan secara induktif.
Guru dan pelajar sama-sama aktif.
Ketepatan pelafalan dan tatabahasa ditekankan.
Bahasa target digunakan sebagai bahasa pengantar secara ketat, dan penggunaan bahasa ibu pelajar sama sekali dielakkan.
Metode ini memiliki keunggulan berupa (i) pelajar tidak perlu menghafal bahasa tertulis, (ii) ttidak verbalistis sebab pengajaran langsung dihubungkan dengan kenyataan, (iii) pelajar memperoleh kesempatan yang banyak untuk mempraktekkan bahasa, dan (iv) pelajar dapat memprakteekkan bahasa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi.
Ivan